Dua Cara Mendeteksi Endapan Lemak di Pembuluh Darah Anda

https://hellosehat.com Penyakit aterosklerosis adalah kumpulan penyakit yang disebabkan penyempitan pembuluh darah tubuh akibat sumbatan pada dinding pembuluh darah. Sumbatan menyebabkan pasokan darah yang menuju organ tertentu terhambat sehingga sel-sel yang berada di organ tersebut bisa mati. Contohnya saja, bila yang tersumbat adalah pembuluh darah jantung (arteri koronaria), maka seseorang bisa terkena serangan jantung. Lain lagi, bila sumbatan itu berada di pembuluh darah yang menuju otak misalnya arteri karotid, maka stroke tidak dapat terhindarkan. Kedua penyakit ini, baik serangan jantung maupun stroke, masih menempati penyebab kematian utama di dunia.

Pembuluh darah tersumbat biasanya tidak menunjukkan gejala

Sumbatan pada dinding pembuluh darah terdiri sampah-sampah seluler, sel darah (seperti trombosit dan leukosit), sel imun, kalsium dan yang paling banyak adalah lemak. Lemak yang tersangkut di pembuluh darah yang rusak bisa membentuk plak atau kerak lemak. Semakin tebal kerak lemak, semakin sempitlah pembuluh darah kita.

Adanya plak atau kerak di dalam tubuh kita, awalnya tidak menimbulkan gejala. Sampai batas ketebalan ±50% dari lebar pembuluh darah, lapisan kerak ini baru memunculkan gejala. Gejala yang timbul tergantung dari organ yang mati. Perbedaan gejala juga ditunjukkan antara perempuan dan laki-laki. Pada perempuan, gejala sering tidak khas, sehingga biasanya berakibat lebih fatal. Kematian pada perempuan masih lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Akhirnya berbagai studi mempelajari bagaimana mengenali kelompok penyakit aterosklerosis lebih dini. Pada penyakit jantung koroner misalnya, penilaian dini dapat menggunakan Framingham Risk Score (FRS) yang lazim digunakan di Amerika Serikat atau Systematic Coronary Risk Evaluation (SCORE) di Eropa. Di Indonesia sendiri, kedua skoring ini diadaptasi untuk mengenali penyakit aterosklerosis pada kelompok berisiko namun tanpa gejala.

Namun, keterbatasan komponen penilaian menyebabkan skoring ini belum mampu mencegah secara sempurna. Kecacatan dan kematian akibat penyakit jantung koroner dan stroke masih saja tinggi. Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Kementrian Kesehatan RI, jumlah kasus stroke makin meningkat, yang semula hanya 8,3% di tahun 2007 menjadi 12,1% di tahun 2013. Oleh sebab itu, dikembangkanlah berbagai macam jenis pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi kerak lemak yang ada di tubuh kita. Pemeriksaan ini biasa dilakukan pada orang sehat dengan faktor risiko atau orang-orang yang berada pada risiko menengah akan penyakit akibat aterosklerosis.

Apa saja pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengecek endapan lemak?

Carotid Intimal Media Thickness (CIMT)

Peningkatan intimal media thickness (IMT) terjadi di fase awal proses aterosklerosis. Beberapa studi menyebutkan, pengukuran peningkatan IMT arteri karotis menggunakan ultrasonografi telah menjadi standar untuk menilai aterosklerosis. Hal ini pun direkomendasikan oleh American Heart Association sebagai penilaian risiko kardiovaskular. Penelitian membuktikan semakin tinggi nilai IMT karotid, maka semakin tinggi kejadian stroke maupun serangan jantung. Hal ini dapat terjadi pada semua orang, dengan atau tanpa penyakit jantung sebelumnya.

Mengapa pengukuran dilakukan di arteri karotid? Arteri karotis dipilih untuk pengukuran IMT karena letak arteri karotis tidak dalam, tanpa ada struktur tulang atau bayangan udara yang menghalangi, dan jauh dari struktur yang bergerak, seperti jantung. Pengukuran IMT arteri karotis dengan USG B-mode merupakan pemeriksaan yang tidak invasif, sensitif, dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur beratnya aterosklerosis, serta risiko penyakit kardiovaskular.

The American Society of Echocardiography dapat melihat plak aterosklerosis yang menyebabkan serangan jantung > 1,5 cm atau ≥ 50% dari ketebalan dinding arteri. Penelitian lain menyebutkan CIMT > 1.15 cm berhubungan dengan kemungkinan 94% kejadian serangan jantung atau pun stroke.

Coronary Artery Calcium( CAC )

Pengapuran pembuluh darah disebabkan oleh sumbatan yang terdiri dari tumpukan kalsium. Tumpukan kalsium ini menyebabkan pembuluh darah menyempit. Dari beberbagai laporan kasus menyebutkan 70% kasus serangan jantung, memiliki pengapuran di pembuluh darahnya. Deteksi CAC memang hanya mendeteksi plak yang keras, tetapi dari penemuan pengapuran, biasanya ditemukan juga adanya plak lunak atau plak campuran keduanya.

Nilai CAC sendiri dapat digunakan untuk prediksi kejadian kardiovaskular dan mengubah tingkat risiko. Nilai positif CAC mengindikasikan adanya proses aterosklerosis. Peningkatan CAC score diketahui akan meningkatkan risiko kejadian serangan jantung dan stroke, apalagi bila CAC score > 300. Sebuah studi menyebutkan secara akurat orang dengan nilai CAC >300 akan mengalami serangan jantung dalm kurun waktu 4 tahun. Studi ini pun menyimpulkan bahwa CAC score jika dilakukan pada populasi resiko rendah menurut Framingham Risk Score(FRS), tetap akan bermanfaat untuk memprediksi kejadian kardiovaskular.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*